“Huft . . . hari ini adalah hari sialku” bathinku. Bagaimana tidak, pagi-pagi aku harus bangun kesiangan karena alarm tiba-tiba mati. Saat ingin mandi, air di kamar mandi juga ikut-ikutan mati. Terpaksa harus pinjam kamar mandi tetangga. Dan saat semua sudah beres, ban bocor hinggap di sepeda fixie kesayanganku. “Oh Tuhan…!”.
Untungnya
masih ada bus kota yang lewat. Tapi, nasib sial memang sepertinya tidak
mau cepat-cepat berlalu dariku. Aku lupa membawa dompet. Alhasil, aku
diturunkan ditengah jalan. Sampai di sekolah, aku dihukum membersihkan
toilet karena terlambat. Padahal aku telah menjelaskan alasan aku datang
terlambat, namun seperti dugaanku, Ibu Metri (guru BP paling killer)
tidak akan percaya. Nasib . .
huft . . . “
aku menghembuskan nafas pendek saat mengingat kesialan yang bertubi-tubi
datang di pagi itu. Aku bersandar di bangku bercat putih, tepat dibawah
pohon. Sebuah pohon tua yang rindang, namun sampai sekarang aku belum
tahu apa nama pohon itu. Masa bodoh! Memangnya itu penting? Tempat ini
menjadi tempat favoritku. Letaknya tidak jauh dari rumahku. Disini aku
bisa melupakan kepenatanku saat sedang berada di sekolah ataupun di
rumah. Yah.. meskipun hanya sesaat, setidaknya suasana tenang disini
cukup membantu.
“..hari ini ku akan menyatakan cinta..menyatakan cinta…
aku tak mau menunggu terlalu lama.. terlalu lama…”
Ringtone
Terlalu Lama dari Band Vierra itu sengaja kupasang untuk nada dering
ponselku. Aku melihat nama yang tertera di layer ponsel itu “Kevin sii
Kura-kura sok care” akupun langsung mematikan ponsel dan beranjak pulang
ke rumah.
****
“din
. . Kevin nyariin kamu tuh. Sana gih temuin dia dulu. Kasihan dia udah
nunggu lama” kata mama lembut, saat membuka pintu kamarku.
“iya
ma” jawabku singkat. Sejujurnya aku malas bertemu Kevin. Karena 2 hari
yang lalu dia menggagalkan acaraku bersama Eza, cowok yang aku suka.
Saat itu, aku sedang menunggu Eza di tempat favoritku. Yah… di bangku
bercat putih itu tentunya. Aku telah mengirim SMS kalau aku ingin
belajar main drum di rumahku. Eza adalah seorang drummer. Dan aku memang
ingin sekali belajar main drum. Apalagi jika pengajarnya adalah orang
yang suka. Sangat jarang Eza mau membalas sms permintaanku dengan
jawaban “iya”. Dan saat itu dia mau mengajariku. Senang? Sudah pasti.
Tapi, tiba-tiba ponselku berdering. SMS dari Kevin “din.. tolong aku.
Cepet! Aku butuh kamu sekarang. Cari aku di taman puri indah!”
Akupun panik dan langsung menuju taman itu. Ternyata Kevin berbohong dan
dengan tampang tidak bersalah dia mengatakan”sorry Din. Aku cuma ngetes
seberapa besar kepanikan kamu saat tahu aku dalam bahaya. Aku
bercanda”.
“huft . . . tega banget Kevin buat rencanaku gagal” umpatku dalam hati
saat mengenang kejadian 2 hari yang lalu. Sejak saat itu aku malas
bertemu Kevin dan Eza, marah padaku. “kalau buat janji, tolong tepati”.
Itu SMS terakhir dari Eza. Dia sudah tidak mau membalas SMS ku lagi.
Walaupun kita 1 sekolah, dia lebih banyak bersikap cuek dan masa bodoh
padaku. Nasib . . .
“kenapa? Belum puas buat aku BT??” kataku pada Kevin dengan nada agak tinggi.
“sorry Din. Aku cuma bercanda. Masa Cuma gara-gara hal sepele kaya gitu
aja kamu jadi marah sama aku?” jawabnya tanpa ada rasa bersalah.
“gampang banget kamu bilang itu bercanda? Kamu tau kan aku suka banget
sama Eza dan kesempatan langka Eza mau ngajarin aku main drum.
Bertahun-tahun Vin aku nunggu momen ini. Tapi, dengan hitungan detik aja
kamu ngerusak semuanya.”
“Vin… biarpun menurut kamu ini hal sepele, tapi buat aku ini berarti
banget. Sekarang Eza udah gak mau balas SMS ku lagi. Dia tambah cuek
sama aku . . ! Kamu ngerti gak perasaanku Vin . .!” kataku dengan nada
keras. Tak terasa air mataku keluar begitu saja. Akupun langsung berlari
ke kamarku tanpa memperdulikan Kevin lagi. Kenapa aku selalu sial?
“dasar kura-kura sok care! Aku benci . . !”
****
“Za
. . maafin aku ya atas kejadian 3 hari yang lalu. Itu bener-bener
diluar dugaan Za. aku janji Za, lain kali aku gak akan bikin kamu
kecewa. Aku bakal tepatin janji aku.” Kataku pada Eza saat sedang ada di
koridor sekolah.
“ya” jawabnya singkat.
“iya apa Za?”
“terserah” jawabnya lagi yang membuat aku semakin tidak mengerti. Akupun
berjalan mendahuluinya dan membentangkan kedua tanganku kesamping “stop
Eza!!”
“apa-apaan sih loe?” kata Eza dengan raut muka marah.
“Za.. apa sih yang membuat kamu itu selalu cuek sama aku? Kenapa cuma sama aku?”
kataku memberanikan diri.
“Za.. apa aku salah suka sama kamu? Pertama kali aku suka sama cowok.
Dan salahnya, cowok itu kamu. Cowok yang gak pernah ngerespon semua
perhatian aku. Kamu malah sering marah dan cuekin aku”
“Za.. kalau emang kamu ngerasa risih karena rasa suka aku ini, aku bakal berhenti suka sama kamu.” kataku pasrah.
Semua siswa menoleh kearah aku dan Eza berdiri. Ada kasak kusuk diantara
mereka. Aku tak peduli lagi apa yang terjadi setelah ini. Akupun
berlari pergi tanpa menunggu jawaban dari Eza. Toh aku sudah tahu
jawabannya. Aku yakin dia pasti senang terbebas dari cewek muka badak
kaya aku.
Aku duduk di bangku bercat putih itu lagi. “hari ini hari sial.. aku
harus bisa melupakan Eza . .”bathinku. 1 tahun yang lalu, saat aku masih
di kelas yang sama dengan Eza, yaitu di kelas XI IPA1, saat itulah aku
mulai suka padanya. Tidak ada yang spesial dari cowok jangkung berambut
ala rambut artis Korea (aku tidak tahu pasti model rambutnya apa) dan
memiliki kulit putih ini. Dia tidak terlalu tampan, tidak terlalu
pintar, tidak juga sangat kaya ataupun menjadi salah satu idola di
sekolah. Satu keahlian dia adalah memainkan alat musik drum. Tapi, itu
tidak terlalu spesial menurut kebanyakan siswi di sekolahku. Dia tetap
cowok biasa.
Sedangkan aku? Siapa di sekolah yang tidak tahu Putri Adinda Pearly. Aku
siswi terpopuler di sekolah. Pertama karena aku pintar dalam banyak
bidang. Aku sering membawa nama sekolah bahkan sampai kancah
Internasional. Kedua karena aku merupakan cheerleader. Ketiga karena aku
cantik dan kaya. Bukan aku sombong, tapi orang-orang sering bilang
begitu. Tapi aku bukan tipe anak manja atau cewek yang suka pamer
kekayaan orang tua. Aku selalu berangkat ke sekolah menggunakan sepeda
fixie berwarna merah muda. Meskipun aku mempunyai mobil, aku tak pernah
menggunakannya ke sekolah. Aku hemat dan mumpung jarak ke sekolah tidak
terlalu jauh, untuk apa membuang-buang bensin? Dan masalah naik angkutan
umum itu, memang aku ingin hidup mandiri kalau urusan ke sekolah. Aku
mempersiapkan diri jika benar aku akan mendapat beasiswa untuk kuliah di
Amerika.
Akupun tak pernah berpikir untuk bebas mendapatkan orang yang aku suka
karena aku siswi populer. Walaupun banyak cowok yang telah menyatakan
cintanya sama aku, tapi aku tak pernah menghiraukannya. Aku suka Eza.
Hanya Eza seorang. Entah karena apa. Rasa suka tak mesti butuh alasan
kan? Satu kenyataan yang pahit. Hampir 2 tahun aku menyukainya, tapi dia
tak pernah membalas rasa sukaku. Mungkin memang aku harus
mengakhirinya. Sebentar lagi Ujian Nasional, jadi konsentrasiku tidak
boleh pecah. Aku harus bisa mendapatkan beasiswa itu. Semangat . . .!!
****
Di hari kelulusan…
“horee . . . . kita semua lulus!!!” teriak beberapa siswa sambil berlarian.
Ada beberapa yang menangis. Bukan karena mereka tidak lulus, tapi karena
saking terharunya. Tidak ada atraksi corat-coret. Karena sekolah kami
memang sangat tertib. Kemarin malam aku telah diberitahu oleh Kepala
Sekolah bahwa aku menjadi salah satu peraih nilai Ujian Nasional
tertinggi ditambah lagi segudang prestasi yang aku punya. Tentunya aku
berkesempatan mendapat beasiswa kuliah di Amerika. Aku senang. Tapi juga
sedih. Aku ingat Eza. Aku baru sadar aku tidak melihat sosoknya sejak
tadi.
“hai Din! Selamet ya. Akhirnya kamu dapat beasiswa itu juga. Aku ikut seneng dengernya.” Kata Kevin yang berlari menghampiriku.
“iya. Makasi ya Vin” jawabku sambil tersenyum. Aku telah memaafkan
Kevin. Toh semuanya telah berlalu. Tuhan saja bisa memafkan Umatnya,
kenapa aku tidak bisa memaafkan sahabatku sendiri? Yah … aku telah
menetapkan Kevin sebagai sahabatku saat masuk SMA. Dia selalu mau
membantuku di setiap kesulitan MOS (Masa Orientasi Siswa) yang aku
hadapi. Dia sosok sahabat yang baik, namun kadang telmi dan gak
nyambung. Kadang juga perhatiannya kepadaku terlalu berlebihan dan
membuat aku kesal. Itulah alasanku menamai dia “Kevin sii Kura-kura sok
care”. Karena memang kenyataannya seperti itu.
“kamu lihat Eza gak?” tanyaku.
“dia udah pulang Din. Tadi sebelum kamu datang, dia udah datang duluan.
Dia cuma ngeliat pengumuman kelulusan aja terus langsung pulang”
“oh gitu..” jawabku kecewa.
“Din.. aku suka kamu” kata Kevin tiba-tiba.
“ah?? Apa Vin?” akupun terkejut mendengar ucapan Kevin yang tiba-tiba itu. Kenapa dia selalu melakukan hal-hal diluar dugaanku?.
“iya Din.. aku baru sadar. Aku selalu ngasi perhatian yang menurut kamu
berlebihan itu, karena apa. Karena aku suka. Karena aku sayang Din”
jawab Kevin serius.
“Vin… kamu tahu kan aku cuma suka sama Eza. Yah.. meskipun saat itu aku
bilang aku bakal nglupain Eza, tapi ternyata itu gak bisa Vin. Maafin
aku..” jawabku.
“hahaa.. GR banget kamu. Aku kan Cuma bilang suka dan sayang sama kamu.
Aku gak bilang kalau aku pengen kamu jadi pacar aku. Kenapa kamu minta
maaf?” jawab Kevin sambil tertawa kecil.
“..hari ini ku akan menyatakan cinta..menyatakan cinta…
aku tak mau menunggu terlalu lama.. terlalu lama…”
Ponselku berdering. “Eza sii Charming Prince is calling”. Itu tulisan
yang tertera di ponselku. Langsung saja ponsel itu aku angkat.
“halo Za..”
“selamet ya. Loe jadi dapet beasiswa itu. Moga impian loe tercapai.
Sorry kalau gue pernah ngecewain loe. Gue gak pernah sengaja ngelakuin
itu”
tutt…tutt…tutt….
sambungan telepon pun terputus.
“Vin, aku ngerti maksud kamu. Thanks kawan” kataku pada Kevin.
“selamat memperjuangkan cinta sejatimu juga kawan..” bathin Kevin.
****
Aku memang perempuan. Tapi itu bukan halangan kalau aku yang menyatakan
perasaanku terlebih dahulu kepada Eza. Itu sudah lumrah di jaman
se-modern ini. Betul kan? Aku berulang kali menelepon Eza dan mengirimi
dia SMS, tapi tak ada jawaban.
“kemana dia?” bathinku.
Entah kenapa, aku ingin melangkahkan kakiku ke bangku bercat putih,
tempat favoritku. Sampai disana, ternyata aku menemui orang yang memang
sedang kucari-cari, Eza. Dia duduk di bangku itu. Dia sedang
mendengarkan lagu. Aku tahu itu karena dia memakai earphone di
telinganya sambil mengenggam sebuah ipod putih. Dia masih memakai
seragam sekolah. “berarti dia belum sempat pulang” pikirku.
“Eza…?” panggilku sambil menepuk pundaknya.
“hemm… kenapa kesini?” Tanya Eza sembari melepas earphonenya.
“ini kan tempat favorit aku”
“oh” jawabnya singkat. Yah.. seperti biasa.
“kamu sendiri. Ngapain disini?”
“lagi pengen”
“kenapa tetep aja kamu gak bisa ramah sama aku? Tolong Za, sekali aja aku minta kamu jangan nyuekin aku” kataku kesal.
“oh ya. Aku mau ngomong sesuatu Za” lanjutku.
“apa?”
“aku suka kamu dan..” belum selesai aku berbicara tapi Eza memotong pembicaraanku.
“katanya mau berhenti suka sama aku?” kata Eza sambil tertawa kecil.
Pertama kali aku melihat Eza tertawa dihadapanku. Aku senang. Senang sekali.
“aku suka kamu. Kamu mau jadi pacar aku?” kataku spontan pada Eza.
“waw… agresif banget”
“jawab Za..” pintaku.
“kenapa loe suka sama gue?” tanya Eza dengan wajah serius.
“aku juga gak pernah tahu alasannya. Aku suka kamu iya karena aku suka”
entah apa yang telah aku katakan pada Eza. Aku sendiri juga bingung
kenapa aku suka Eza.
“memangnya itu penting? Rasa suka gak mesti beralasan kan Za?” lanjutku.
“loe mau gue jawab iya atau nggak?” katanya dengan nada datar.
“lho! Kok kamu nanya aku? Za, aku gak main-main. Aku serius.” Aku hampir
kesal setengah mati dibuatnya. Aku sudah menahan malu dan membuang
jauh-jauh harga diriku, hanya untuk menyatakan cinta pada Eza. Tapi,
sikapnya malah super cuek seperti ini.
“ok. Aku tahu apa jawaban kamu. aku cuma buang-buang waktu disini. Toh
kamu juga gak akan pernah peduli sama apapun yang aku bilang.” kataku.
Aku mulai pasrah lagi. Saat aku ingin beranjak pergi, Ezapun berkata sesuatu yang membuatku tertahan disana.
“ini sifat loe yang gak bisa berubah dari dulu. Sok tahu dan gak
sabaran. Belum sempat dengerin penjelasan orang, eeh.. udah nyelonong
pergi duluan dan ngambil kesimpulan sendiri” kata Eza.
Mama dan Kevin juga pernah bilang seperti ini padaku. Aku orang yang
agak arogan, sok tahu, dan tidak sabaran. Itulah alasan kenapa aku
sering sial.
“itu karena kamu cuek sama aku. Kamu gak pernah mikirin perasaan orang. Sifat kamu tuh cuek banget” jawabku sekenanya.
“yah.. terserah. Loe gak mau denger jawaban gue?”
“udah pasti kan jawabannya nggak. Aku tahu kok, Za.”
Ezapun tertawa kecil lagi lalu berkata “tuh kan sok tahu”.
“gue juga suka sama loe” lanjutnya. Aku terkejut mendengar ucapan Eza.
Apa aku tidak salah dengar? Eza juga suka sama aku? Wahh… senangnya.
“kamu serius Za??” tanyaku sambil menggoyangkan pundak Eza dengan kedua tanganku.
“tapi kenapa sikap kamu selalu cuek sama aku?”
****
Hari
ini aku berangkat ke Amerika. Aku akan menjalani tes terlebih dahulu.
Jika aku lulus, aku akan langsung diterima. Jika tidak, aku akan
menjalani tes kedua untuk beasiswa kuliah di Australia. Aku harus
optimis kalau aku bisa melewati tes itu dengan baik.
“kita ke airport ya Pak” kataku pada sopir taxi yang akan mengantarku ke bandara.
“ok neng” jawabnya.
Diperjalanan, aku ingat kejadian saat aku menyatakan cinta pada Eza, pacarku sekarang.
“itu karena gue minder. Loe terlalu sempurna. Loe punya semua yang gue gak punya.”
kata Eza.
“temen-temen gue selalu bilang kalau loe gak pantes buat gue. Biarpun
gue juga suka sama loe, tapi gue mutusin buat masa bodoh aja sama loe”
lanjutnya dengan nada serius.
“terus sekarang? Kenapa kamu berubah pikiran, Za?”.
“karena gue gak mau nyesel. Nyia-nyiain orang yang sayang sama gue. Dan gue juga sayang sama dia. Sama loe, Din”
Kami berduapun resmi berpacaran. Aku sangat senang karena cintaku tak
bertepuk sebelah tangan. Yah.. meskipun harus menunggu lama. Tapi, itu
karena sifatku yang sok tahu sehingga aku lupa bahwa aku “belum”
menyatakan cinta pada Eza.
“..hari ini ku akan menyatakan cinta..menyatakan cinta…
aku tak mau menunggu terlalu lama.. terlalu lama…”
Ponselku berdering. “Eza My lovely boy is calling”.
“halo Za?”
“halo Din. hati-hati di negeri orang yah? Kamu harus selalu jaga
kesehatan dan jangan lupa berdoa” terdengar suara Eza yang lembut
diseberang sana.
“iya sayang.. Kamu udah berkali-kali bilang gitu sama aku. Tenang aja,
aku bisa jaga diri kok. Aku bakal turutin semua nasehat kamu”
Aku akan berusaha menjalin hubungan yang serius dengan Eza. Aku tidak
ingin menyia-nyiakan orang yang sangat sulit untuk kudapatkan ini. Aku
akan selalu menyayanginya. Meski jauh dimata. Toh.. dekat di hati. Iya
kan?
Note: jangan pernah takut menyatakan cintamu. Apapun jawabannya,
setidaknya kamu telah mengungkapkan isi hatimu yang terpendam. Karena,
akan ada penyesalan jika kamu masih memendamnya.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar